Kemiskinan Menjerat Haruskah Ibu Membunuh Anak ?

Perwita Sari, S.Si

Pilu bagaikan disayat sembilu, anak yang disayangi harus pergi dan tidak akan pernah kembali. Sakit yang dirasa tidak terhenti. Air matapun kering habis membasahi diri menyesali kenapa peristiwa ini terjadi. Nofedi Lahagu  warga dusun II , Desa Banua, Nias utara Sumatra Utara, harus menelan pil pahit mendapati ketiga anaknya meregang nyawa usai mencoblos di Pilkada Sumut. Tidak kalah kagetnya, ia mencoba menyelamatkan istrinya yang mencoba bunuh diri setelah membunuh ketiga buah hatinya tersebut (kompas,15/12/2020).

Dilansir dari tribunnews (14/12/2020), akhirnya ibu yang telah membunuh ketiga anaknya kini dikabarkan meninggal saat menjalani hukuman di penjara. Semakin bertambahlah kesedihan Nofedi Lahagu, ia mengungkapkan selama ini mengalami himpitan ekonomi. Terkadang ia dan keluarganya merasakan kesulitan mendapatkan makanan bahkan tiga hari baru bisa makan. Tidak jarang ia hanya bisa memberikan pisang untuk dimakan oleh keluarganya.

Ironis, kekayaan alam Indonesia yang luar biasa justru tidak menjadikan rakyat Indonesia sejahtera.  Bahkan dari tahun ke tahun  angka kemiskinan semakin meningkat. Bisa dirasakan setelah pandemi mengancam seluruh negeri nasib rakyat Indonesia tidak menjadi lebih baik. Berefek pada ekonomi negeri harus mengalami resesi atau kelesuan ekonomi. Daya beli masyarakat menurun disisi lain akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masal.

Rakyat harus bertahan meskipun hidup penuh kekurangan. Hal ini diperpararah dengan adanya temuan penyaluran dana bantuan sosial yang di korupsi oleh menteri sosial Juliari Peter Batubara. Semakin menambah catatan kelam rezim yang tidak berpihak pada rakyat. Bantuan sosial yang digadang-gadang atas nama rakyat  tidak juga dapat dirasakan merata seluruh penduduk negeri. Dampaknya rakyat kian apatis akhirnya melakukan tindakan kriminal pencurian, perampokan, begal, penipuan bahkan pembunuhan.

Demokrasi yang ditawarkan mensejahterakan justru hanya memihak kepada segelintir orang saja. Pilkada yang diadakan di masa pandemi hanyalah pepesan kosong syarat dengan kepentingan. Akankah rakyat sejahtera ?. Jika sistem kehidupan berdasarkan aturan yang dibuat oleh manusia, pastinya manusia akan terus mengalami kekecewaan. Karena manusia tidak sanggup menghasilkan aturan yang sempurna. Perlunya solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan negeri.

Mari berkaca pada sistem kehidupan yang di tata oleh Rasulullah Muhammad Saw. Terbukti Rasulullah Saw pernah membangun sistem pemerintahan Islam di Madinah. Sistem Pemerintahan Islam ini dibangun berdasarkan hukum syara. Hak membuat hukum dikembalikan pada Allah Swt bukan manusia. Sehingga ketika berbicara sejahtera maka Islam memiliki komitmen tinggi dalam pemerataan kesejahteraan.

Islam berusaha mengatasi kemiskinan mencari solusi dan mengawasi dampaknya. Sehingga akidah, akhlak, amaliyah dan mampu memelihara kehidupan keluarga. Menjaga kestabilan dan ketentraman individu masyarakat. Hidup harmonis mewujudkan jiwa persaudaraan antara individu masyarakat. Sehingga individu masyarakat  tadi sanggup menghadapi tantangan hidup.

Negara yang akan menerapkan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam ini akan menjamin kesejahteraan rakyat. Sistem ekonomi Islam akan melindungi rakyat dari keserakahan segelintir orang yang bisa merugikan banyak orang. Tidak bisa dibenarkan adanya orang hidup disuatu masyarakat dengan sistem pemerintahan Islam hidup dalam keadaan kelaparan, meminta-minta atau hidup yang tidak layak.

Setiap individu masyarakat wajib berusaha dan tidak boleh bermalas-malasan. Sedangkan Negara berperan tidak hanya sebagai regulator. Negara memastikan di lapangan rakyat bisa bekerja dan menghilangkan hambatan-hambatannya. Sehingga negara menjamin individu masyarakat mencapai taraf hidup yang terhormat. Negara akan menjelaskan mekanisme pengaturan upaya meningkatkan taraf hidup yang diatur dalam sistem ekonomi Islam.

Dalam sistem ekonomi Islam bahwa individu masyarakat diwajibkan untuk bekerja. Mencari nafkah merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan. Dengan bekerja merupakan sarana untuk memperoleh kekayaan. Islam menganjurkan seorang pekerja tidak boleh dihalang-halangi untuk mendapatkan upahnya. Islam juga memotivasi agar individu masyarakat termasuk kepala rumah tangga mau bekerja keras dan bersunguh-sungguh dan bertawakal kepada Allah Swt.

Membantu keluarga yang lemah. Tolong menolong dalam membantu keluarga lemah sangat di anjurkan.  Apalagi keluarga tersebut yang menanggung nafkah itu tidak bisa bekerja atau dikarenakan lemah fisiknya. Islam juga mewajibkan bagi orang-orang kaya untuk membantu memberi nafkah kepada orang-orang miskin. Syariat Islam juga mengatur merinci bab penafkahan pada keluarga.

Islam juga menegaskan bahwa orang-orang kaya wajib membayar zakat. Zakat dipungut dengan tujuan agar harta tidak beredar pada orang kaya saja. Maka harta zakat akan dibagikan pada rakyat yang miskin atau orang yang berhak mendapatkan zakat atau delapan golongan yang dijelaskan di dalam al Qur’an Surat at Taubah ayat 60. Negara yang akan menunjuk petugas khusus untuk mengambil harta zakat tadi dari orang-orang kaya kemudian membagikannya kepada orang yang berhak.

Demikianlah gambaran Islam dalam mengatasi kemiskinan. Sehingga individu masyarakat dapat hidup tenang dan tentram karena terjamin kesejahteraannya. Harapannya ketika Islam diterapkan dapat mencegah kerusakan-kerusakan di tengah masyarakat dampak dari kelaparan dan kemiskinan. Termasuk menjaga dan memelihara jiwa keluarga baik ayah, ibu dan anak-anaknya. Walhasil masyarakat akan hidup tenang dan tentram karena hajat hidup mereka terpenuhi. Wallahu’alam bishowab

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Personel Kodim 1509 Labuha Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Next Article

Daddy Rohanady (Anggota DPRD Provinsi Jabar) : IRONIS Patimban Dibuka, Kertajati Ditutup

Related Posts