Inovasi Teknologi IBB-TV, Solusi Hemat Belajar Jarak Jauh di Masa Pandemi

Siswa SD di Kota Bandung sedang mengikuti mata pelajaran melalui penanyangan PJJ di kanal tv Bandung132 hasil inovasi penggabungan teknologi broadcast dan internet oleh IBB-TV di salah satu kantor RW saat uji coba akhir Oktober 2020 lalu.

BANDUNG, BEDAnews.com – Dampak pandemi Covid-19, memaksa proses belajar mengajar antara guru dan siswa hanya dilakukan melalui virtual atau daring (dalam jaringan) yang selalu menggerus kouta internet.

Sebuah terobosan di bidang penyiaran yang menggabungkan teknologi broadcast dan internet (broadband) melahirkan jenis penyiaran Integrated Broadcast Broadband-Television (IBB-TV).

Dengan teknologi ini, televisi kini bisa dijadikan interface untuk komunikasi dua arah antara audiens di manapun berada dan host televisi saat live.

Inovasi besutan PT Daulat Digital Global (DDG) ini menggabungkan teknologi 4 jenis media, sehingga IBB-TV dapat beroperasi multi platform berbasis satelit.

Penggabungan 4 Jenis media dimaksud adalah  tv konvensional, tv satelit (satu arah,red) dan jenis tv interaktif (dua arah, satu platfom,red), serta konvergensi terhadap aplikasi media sosial yang  sudah ada (Zoom, Skype, Google Meet, dan lainnya).

Sehingga proses penyiaran live streaming oleh IBB-TV mampu dilakukan dimanapun tanpa terkendala wilayah, lebih leluasa, praktis, dan mampu menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia, karena cukup memakai perangkat gadget smartphone, tablet atau laptop, tanpa selalu harus mambawa fixed camera.

Wali Kota Bandung Oded Muhammad Danial berbincang dengan salah satu siswi SMP, saat hadir dalam uji coba IBB-TV penayangan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada kanal tv interaktif Bandung132 di Kelurahan Cibangkong Kec. Batununggal Kota Bandung, akhir Oktober 2020 lalu.

Terobosan ini lahir, berawal dari rasa keprihatinkan atas pandemi covid  yang muncul sejak Maret tahun 2020 lalu, dan berdampak terhadap aktivitas  pendidikan siswa di sekolah.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) PT Daulat Digital Global, Jerri Ludiansyah, pengembangan IBB-TV sebenarnya tanpa diduga, karena berangkat dari persoalan banyaknya masyarakat, khsusunya siswa sekolah yang menggunakan kuota internet dalam proses belajar digital virtual melalui aplikasi.

“Tentu saja, masalah kuota internet ini memberatkan masyarakat, apalagi di saat pandemi Covid-19 aktivitas ekonomi melemah.  Dari masalah itu, kita berupaya agar biaya belanja kuota internet dapat direduksi dengan memanfaatkan perangkat yang sudah familiar di masyarakat, yakni televisi,” ujarnya dalam siara pers, Jumat (22/1/2021) di Bandung.

Pada dasarnya, lanjut Jerri, pihaknya berhasil memanfaatkan penyiaran tv satelit dengan menggabungkan teknologi broadband (internet) sehingga terbentuk siaran Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang hemat kouta internet dan siaran bisa menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia.

“Uji coba PJJ pertama di Kota Bandung diterapkan pihak Disdik melalui kanal TV Bandung132 sejak 25 September 2020. Namun sebagai jenis tv berbasis satelit, maka untuk dapat mengakses siaran TV Bandung132 menggunakan decoder yang sudah diprogram dan compatible dengan android, serta membutuhkan mini parabola khusus, yang relatif murah tanpa biaya bulanan,” paparnya.

Dalam kanal TV Bandung132, para siswa saat mengikuti pelajaran dapat melakukan komunikasi 2 arah langsung terhadap guru pengajar melalui penghubung QR (quick respon)-Code yang ada di pojok layar televisi.

Arsitektur cara kerja IBB TV berbasis satelit

“Siswa cukup menempelkan smartphone miliknya di depan QR-Code, maka akan diperoleh links untuk interaktif kepada host  saat siaran tv berlangsung maupun siaran ulang. Bagi siswa lain yang hanya menonton, tidak harus ikut interaktif sehingga kouta internet tetap terjaga dan minim dalam pemakaian internet. Paling tidak, melalui terobosan IBB-TV, siswa bisa hemat penggunaan kouta internet,” jelas Jerri lagi.

Dalam uji coba program PJJ di kanal tv digital Bandung132, kini sudah terpasang  dekoder IBB-TV di 1.200 titik rumah siswa tidak mampu, kantor kelurahan, dan kantor kecamatan di Kota Bandung, sekaligus sebagai percontohan.

Keunikan, dari IBB-TV ini, kanal tv didesain bisa di-kluster (locked) khusus sesuai kebutuhan, open relay terhadap aplikasi medsos umum yang sudah ada seperti Zoom, Skype, Google Meet atau lainnya, dan juga bisa menggunakan fixed camera tv untuk penyiaran ke publik.

“Tidak hanya itu, IBB-TV juga bisa digunakan untuk  kebutuhan kanal tv komunitas, korporat atau kebutuhan pemerintah daerah dan pusat dalam kordinasi kewilayahan dari tingkat pusat hingga pedesaan, tanpa terkendala wilayah hingga pulau terluar,” kata Jerri lagi.

IBB-TV didesain dengan pendekatan Human Center Design (HCD), yakni teknologi yang berpusat kepada manusia yang disesuaikan dengan kebutuhan, kebiasaan, dan kapabilitas sebagai penggunanya. Diharapkan, IBB-TV (https://ibbtv.id/) menjadi salah satu pilihan solusi di saat masyarakat harus menjaga jarak, namun tidak mengurangi aktivitas komunikasi.

Di sisi lain tambah Jerri, IBB-TV membuka peluang kembali bangkitnya penyiaran pertelevisian untuk lebih berfungsi lebih sebagai interface komunikasi 2 arah antara host dan audiens di rumah, karena IBB-TV menjadikan tv sebagai perangkat yang mulai mulai ditinggalkan, namun kini bisa compatible jika dioperasikan pada platform media sosial. (Rob)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

PSBB Proporsional Kota Bandung Bakal Berlanjut

Next Article

NU dan Zamedia Kolaborasi Lahirkan Inovasi Multimedia Digital Berbasis Android “Nahdlyin Smartbox”

Related Posts