Dua Megaproyek Mangkrak, Pemkab Bandung Kehilangan Potensi PAD

Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Toni Permana

KAB. BANDUNG – Dua megaproyek pemerintah kabupaten Bandung yakni proyek pembangunan rumah sakit ibu dan anak di Bihbul serta pembangunan Pasar Sehat Sabilulungan di Majalaya, tidak berjalan alias mangkrak.

Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Toni Permana mengungkapkan soal pembangunan rumah sakit di Bihbul, Pemkab Bandung sudah menjalin kesepakatan dengan pihak ketiga. Tapi hingga batas waktu yang sudah habis, ternyata kesepakatan yang sudah tercantum dalam Mou itu tidak dijalankan.

“Mereka yang modali, biayai, yang bangun, baru nanti selama berapa tahun mereka kelola, itu jadi milik pemda, istilahnya apa gitu, dan pemda mendapatkan keuntungan dari pengelolaan mereka, sampai modal dan keuntungannya mereka dapat,” tutur Toni, Kamis (4/2/2021).

Toni menyebutkan, dengan mangkraknya proyek pembangunan fasilitas kesehatan itu, Pemkab Bandung seharusnya langsung memberikan sanksi kepada pihak ketiga terkait berupa pemutusan kontrak.

Menurut Toni, mangkraknya proyek tersebut membuat Pemkab Bandung kehilangan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Harusnya kan kalau proyek itu jalan terus dan bisa segera terbangun maka akan ada pelayanan publik. Otomatis potensi PAD datang dan masuk ke Kabupaten Bandung,” katanya.

Kabupaten Bandung belum memiliki rumah sakit yang secara khusus menangani ibu dan anak. Jadi selama ini warga Kabupaten Bandung berobatnya ke Kota Bandung, maka otomatis PAD nya masuk ke kota.

Pembangunan Pasar Sehat Sabilulungan di Majalaya juga mangkrak. Padahal, potensi PAD yang bisa masuk itu sangat luar biasa.

Untuk itu pihaknya akan mendorong pemda untuk segera mencari pihak ketiga yang lain atau mendorong pemda untuk mengelola sendiri.

“Kita akan mendorong bupati baru untuk mengevaluasi seluruh kerjasama dengan pihak luar,” ujar Toni.

Terkait pemilihan pihak ketiga dalam sebuah proyek, Toni menyarankan pemda harus melakukan crosscheck. Misalnya dicek kantonya, rekening perusahaannya sehat atau tidak, seberapa siap dananya.

“Jadi ternyata banyak pihak ketiga, itu tidak punya modal, terus mereka berharap dapat dananya. Misalnya, kalau pasar itu kan mereka berusaha dapat dari uang muka masyarakat yang pesen tempat atau kios,” ujar Toni.

Sedangkan kalau kaya puskesmas, lanjut Toni, mereka berharap dapat dana dari perbankan yang bisa memback up keuangan mereka.

Ternyata itu tidak mudah. Apalagi dalam situasi krisis seperti ini, tidak mudah membuat situasi kepercayaan perbankan juga, jadi mereka enggak punya modal intinya. ***

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Menteri ATR/BPN JAMIN Tidak Ada Penarikan Sertipikat Terkait Penerbitan Sertipikat Elektronik

Next Article

Renie Rahayu Bahagia, Kini Pontren di Jabar Setara Dengan Lembaga Pendidikan Lainnya

Related Posts