Umat Bangkit, Lepaskan Jeratan Kapitalisme

Ine Wulansari

Di masa pandemi seperti saat ini, aktivitas manusia banyak dilakukan di rumah. Hal ini menjadikan dunia maya sebagai tempat bertatap muka dan bertegur sapa. Seperti sekolah secara daring, bekerja pun secara online masih terus dilakukan sebagai salah satu bentuk pemutus rantai Covid-19.

Dengan kegiatan yang serba online, pemilik perangkat lunak aplikasi media sosial sangat diuntungkan. Salah satu aplikasi yang sering digunakan adalah WHATSAPP, yang baru-baru ini menuai kontroversi dengan mengeluarkan kebijakan yang membuat para penggunanya beralih pada aplikasi lain. Namun kebijakan ini ditunda. Mengutip AFP, “Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan para pengguna,” tutur WHATSAPP. (CNNIndonesia, Sabtu, 16 Januari 2021)

Belum diketahui kapan kebijakan ini akan mulai diberlakukan. Karena kebijakan ini, WHATSAPP menjadi galau dan cemas. Sebab para penggunanya melirik aplikasi lain yang dianggap lebih aman dan menjaga data pribadi pengguna. Di antara aplikasi yang menjadi incaran seperti Signal, BIP, dan Telegram, meskipun ketiganya bukan aplikasi baru dan sebagian orang sudah banyak yang menggunakannya.

Akibat kebijakan barunya tersebut WHATSAPP merugi, sementara perusahaan pesaingnya diuntungkan. BIP misalnya, aplikasi pesan singkat buatan Turki ini meningkat pesat. Lonjakan unduhan aplikasi Turki yang dikembangkan Turkcell ini, telah memiliki lebih dari dua milliar pengguna di seluruh dunia. (Portal-Islam.id, 19 Januari 2021)

Fenomena eksodus para pengguna WHATSAPP, merupakan gerakan kecil yang membuat kelabakan sebuah korporat. Bayangkan jika gerakan ini diterapkan dalam potensi yang besar, menyatukan pemikiran dan perasaan umat dalam satu tujuan yakni kebangkitan Islam. Sungguh hal ini akan menjadi pukulan besar bagi sistem demokrasi kapitalis yang mendominasi dunia saat ini.

Meskipun belum memiliki kepemimpinan politik sendiri, dengan keberanian bersikap tegas memutuskan hubungan dengan korporasi global, hal ini mampu membuat ciut nyali perusahaan raksasa milik salah satu korporat. Ini juga menjadi sebuah harapan awal, bahwa umat Islam mampu melawanan kekuatan kapitalsime. Seandainya perlawanan ini diikuti langkah berani berupa dunia Islam keluar dari cengkeraman kapitalisme, maka umat yang selama ini tidur panjang dalam buaian mimpi kapitalis akan bangkit dan mengambil posisinya kembali sebagai sebaik-baiknya umat.

Gelar sebagai umat terbaik yang merupakan anugerah dari Allah, tak disertakan tindakan nyata, dengan melupakan tuntunan Islam menjadikan umat yang ada saat ini  jauh dari keberkahan hidup. Potensi umat yang besar tenggelam dan rusak terbawa arus sistem kapitalisme. Padahal Rasulullah saw. bersabda:

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (HR. Ad Daruquthi dan Baihaqi)

Besarnya potensi umat dari berbagai aspek, seperti aspek populasi demografi, menurut Pew Research Center pada 2015, sekitar 1,8 milliar dari populasi dunia adalah umat Islam. Pertumbuhan populasi umat Islam akan bertambah 2,2 milliar pada tahun 2030 mendatang. Dengan jumlah populasi umat Islam yang terus bertambah, merupakan suatu anugerah besar bagi umat Islam.

Aspek militer, jika dunia Islam dipersatukan ada lebih 22,42 juta personel militer. Aspek ekonomi, negara Islam mampu menghasilkan swasembada pangan yang melimpah. Sebagai contoh, Indonesia dan Bangladesh adalah produsen beras terbesar ke tiga dan ke empat dunia. Namun sayang, saat ini kedua negara tersebut menjadi negara importir beras, akibat dari penerapan ideologi kapitalis.

Kemudian aspek sumber daya alam, dunia Islam menguasai 72 persen cadangan minyak dunia. Memiliki cadangan gas alam sebesar 107,75 trilliun meter kubik. Jika dirinci secara lengkap, kekayaan alam yang dimiliki negeri-negeri muslim dapat dijadikan bekal untuk melawan negara-negara penguasa dunia saat ini. Aspek industri, dan kekuatan ideologi.

Aspek populasi umat Islam merupakan nikmat terbesar yang dimiliki, yang bisa dijadikan modal dasar untuk membangun kekuatan negara di masa mendatang. Begitu pun aspek demografi, ada empat wilayah yang memiliki populasi muslim terbesar yaitu, kawasan Asia Pasifik, kawasan Arab yang meliputi Timur Tengah dan Afrika Utara, kawasan Asia Tengah dan Asia Barat, dan kawasan Sub Sahara Afrika.

Selain itu ada aspek ekonomi, kekayaan alam yang dimiliki negeri-negeri muslim dapat diandalkan sebagai bekal untuk menjadi negara adidaya. Dengan kekuatan ekonomi dapat melawan negara superpower seperti AS, Cina, Rusia, dan sekutu mereka. Jika ditelaah, tak ada satu negara pun yang memiliki sumber energi yang setara dengan energi umat Islam. Limpahan aset yang strategis bagi kaum muslim, mewujudkan keseimbangan kekuatan untuk masa mendatang.

Semua harapan ini akan tercapai, jika umat bersatu padu mewujudkan political will untuk mengembalikan kejayaan Islam, dengan hadirnya negara adidaya yang mampu menyatukan berbagai potensi besar yang dimiliki umat. Kekuatan ini akan terlaksana secara nyata jika negara Islam tegak dengan dukungan umat. Wallahu a’lam bish shawab.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Leningan Bocor, Dansektor 19 Kerahkan Anggota Bantu Perbaiki Tanggul

Next Article

Singgung Pengusaha Caffe, Kadisporabudpar Kota Tasik Minta Maaf

Related Posts