Rohingya Malang, Rohingya Dibuang

Elin Nurlina

Terdengar kabar yang memilukan tentang saudara kita muslim Rohingya, Para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri dari Myanmar setelah tindakan keras militer yang dimulai tiga tahun lalu di mana para penyelidik PBB mengatakan sebanyak 10.000 orang tewas dan lebih dari 730.000 terpaksa mengungsi.

Mereka harus terombang ambing di lautan lepas, mencari tempat perlindungan ke berbagai negara namun kebanyakan yang menolak, sampai akhirnya sebagian diantara mereka melabuhkan diri ke Bangladesh.

Berharap ada tempat perlindungan dan mendapatkan kehidupan yang selayaknya, namun apa mau dikata, Sekitar 1.600 pengungsi yang ada di Bangladesh, harus rela dipindahkan ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau terpencil yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12), menurut laporan kantor berita Reuters(www.viva.co.id). Bangladesh sendiri mengatakan semua pengungsi yang dipindahkan telah memberikan persetujuan, namun pada faktanya mereka sebenarnya tak menyetujui hal itu dan itu tidak secara sukarela dengan kata lain “dipaksa”.

Begitulah potret suram sebuah paham nasionalisme yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Ikatan persaudaran islam (ukhuwah Islamiyah) yang dulu kokoh kini menjadi lemah karena terkotak-kotakan menjadi negara-negara kecil. Ikatan kebangsaan ini telah menjadikan umat islam merasa tidak lagi peduli dengan keadaan saudara seakidahnya lantaran naluri mempertahankan negerinya sendiri tempat dimana ia hidup dan menggantungkan diri lebih mereka kedepankan dibanding keselamatan saudara seakidahnya sendiri.

Nasionalisme bisa dikatakan racun bagi kaum muslimin, sebab paham ini sangat bertentangan dengan Aqidah Islamiyah yang dapat menghantarkannya kepada kekufuran. Umat Islam seharusnya sadar bahwa yang telah menghancurkan induk mereka (khilafah) adalah musuh-musuh Islam, diantaranya dengan cara menanamkan paham “nasionalisme” ke dalam jiwa-jiwa kaum muslimin, sehingga mereka terlena dan melupakan hakikat kesatuan utama diantara mereka yaitu kesatuan aqidah. Dan benar saja, cara mereka telah melemahkan persaudaraan diantara sesama muslim. Loyalitas yang seharusnya diberikan kepada aqidah islam menjadi setia kepada nasionalisme.

Nasionalisme inilah yang mereka jadikan alat hingga banyak menimbulkan dampak buruk bagi kemajuan Islam dan kaum muslimin. Nasionalisme ini yang menjadi salah satu sebab runtuhnya Daulah Islamiyah Turki Utsmani. Sepatutnya kita sadari bahwa paham nasionalisme pada dasarnya alat para penjajah untuk melemahkan ukhuwah dan tidak layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya.

Keberadaan PBB, UNHCR, maupun HRW nyatanya hanya menjadi lembaga penghasil konvensi saja. Perannya sebagai Lembaga perdamaian dan keamanan internasional, serta Lembaga yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada pengungsi yang memupuk hak asasi manusia tidak bisa menjadi gantungan harapan solusi bagi negara yang tertindas khususnya pengungsi rohingya, ataupun negara yang terkena konflik berkelanjutan seperti palestina maupun yang lainnya. Perannya lemah, seolah tak mempunyai taring bila umat islam yang mendapat kedzaliman. Lalu mendamaikan siapa sebenarnya mereka ada?.

Demikianlah bila Lembaga yang dilahirkan dari system yang rusak nyatanya tidak membawa kemaslahatan dalam perdamaian maupun keamanan internasional. Tujuan yang hendak dicapai tidak sepenuhnya menjaga. Terlebih kepada negara-negara islam. Sebab mereka justru ingin menghancurkan sendi-sendi umat islam sampai ke akar-akarnya.

Khilafah sistem yang mewujudkan ukhuwah sejati dan bertindak nyata memberi solusi dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Khususnya Pengungsi ronghiya tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa arah tujuan. Negara yang menjadi warga negara daulah, walaupun itu ada kaum non-muslim akan dipelihara, dijaga dan dijamin kehidupannya karena sudah menjadi tanggung jawab negara. Tidak akan ada diskriminasi antara kaum muslim maupun non-muslim dalam hal apa pun.

Khilafah substansinya mewujudkan ukhuwah(persaudaraan). Persaudaraan yang lahir dari akidah akan memberi ikatan yang kuat dalam kehidupan manusia.  Wallohu ‘alam bi Showwab.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Dirjen Dukcapil Kemendagri: Pelayanan Publik di Kota Tasik Sesuai Standar nasional

Next Article

Karyawati Pabrik Garmen Tasikmalaya, Ditemukan Tak Bernyawa Di Kamar Kontrakannya

Related Posts