Mengembalikan Fungsi Pesantren Sebagai Pencetak Ulama

Shinta Dewi

Generasi muda merupakan penerus juga sebagai poros perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Di tangan merekalah baik buruknya peradaban. Pada saat ini banyak orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Bukan tanpa alasan, pemberitaan tentang kenakalan remaja seperti geng motor, tawuran, pergaulan bebas, aborsi, LGBT, narkoba,  dan tindak kriminal lainnya membuat miris semua orang.

Berangkat dari kekhawatiran, sebagian orang tua lebih mempercayakan anaknya untuk tinggal dan sekolah di pesantren. Mereka berasumsi bahwa di pesantren dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan sekaligus mendapat ilmu.

Di jaman serba modern ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kurikulum pesantren. Dimana telah terjadi perubahan dalam proses pembelajaran yang memadukan mental dan kepribadian Islam dengan memiliki pengetahuan teknologi bagi peserta didik. Selanjutnya diharapkan para santri bukan hanya memiliki bekal ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat.

Suatu kebahagiaan bagi pengelola pesantren maupun santri ternyata pesantren diakui keberadaannya oleh pemerintah. Dulu pesantren kurang mendapat pengakuan optimal jika dibandingkan dengan pendidikan formal. Dengan adanya Perda pesantren berharap bisa memberikan kemajuan bagi keberadaan pesantren, lulusannya pun bisa disejajarkan dengan lulusan pendidikan formal. Pesantren akan dibina oleh pemerintah segala sesuatunya, termasuk pemberdayaan dalam bidang ekonomi. Kami berharap dengan adanya Perda ini para santri semakin berdaya serta berdaya saing, dikarenakan adanya kesamaan antara hak pendidikan pesantren dengan hak pendidikan formal, ungkap dan harapan Pimpinan Pondok Pesantren Maaul Huda K.H. Jajang Abdul Maulana. ( Portal Bandung Timur Rabu 3/2/2020 ).

Pada faktanya tidak sedikit lulusan pesantren tidak sesuai dengan harapan orang tuanya, terlebih menjadi kebanggaan Islam, yaitu sebagai generasi yang terpanggil melakukan amar makruf nahyi munkar, menolak peradaban Barat yang merusak serta menyerukan tegaknya syariah kaffah agar kaum Muslimin kembali jaya dan mulia. Individu santri terjebak oleh kepentingan yang bersifat individual, sudah lulus dapat kerja, tidak usah pusing-pusing memikirkan nasib bangsa, nasib umat. Tidak kritis terhadap penjajahan yang sedang berlangsung, baik penjajahan ekonomi, budaya dan politik.

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekular. Kapitalisme menjungjung tinggi kebahagiaan yang bersifat materi. Berdaya dan berdaya saing semata-mata ditujukan dalam rangka mendapatkan materi. Padahal pesantren adalah lembaga pendidikan, tempat para santri menimba ilmu menjadi para ulama hebat. Tidak salah memang jika di pesantren anak diajarkan cara bermuamalah yang benar sesuai pandangan Islam misalnya, bukan lantas jadi tempat pemberdayaan ekonomi sehingga menyita waktu belajar. Di bawah pengaruh kapitalisme bukan tidak mungkin menimba ilmu teralihkan pada materi.

Pemberdayaan ekonomi seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dengan cara  memfasilitasi lapangan kerja yang seluas-luasnya, terutama bagi laki-laki sebagai calon bapak pencari nafkah. Ilmu mencari nafkah, pekerjaan apa saja yang dibolehkan dan yang dilarang bisa didapat dari pesantren. Jangan sampai pesantren diciptakan sedemikian rupa menjadi tempat bisnis.

Sekularisme adalah paham yang meminggirkan agama (Islam) dalam pengaturan kehidupan. Agama diamalkan hanya sebatas lingkup tataran ibadah mahdhah saja.

Perda pesantren sekilas mengayomi, nyatanya mengebiri. Pengakuan atas pesantren seharusnya sejak dulu, mengingat jasa pesantren yang telah melahirkan para mujahid mengusir penjajah. Namun sayang kurikulum pesantren maupun kurikulum selain pesantren tidak pernah diarahkan ke sana. Jihad dituduh ajaran radikal.

Kapitalisme sekular berpengaruh kuat terhadap corak pendidikan baik pesantren maupun bukan. Pernyataan pesantren akan dibina pemerintah sejatinya bukanlah hal yang menggembirakan tapi memprihatinkan. Sebab para santri akan dibina sesuai dengan ideologi kapitalisme sekular yang sangat bertentangan dengan ideologi Islam.

Generasi berkepribadian Islam idealnya dibina di bawah sistem yang menerapkan aturan Islam bukan kapitalisme sekular. Semoga semakin banyak generasi yang terbuka cakrawala pemikirannya seiring dengan dakwah ideologis yang menyerukan penerapan Islam kaffah. Wallahu’alam bi ash shawab

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kota Bandung Masuk Daftar 10 Kota Terbaik Makanan Tradisional Di Dunia

Next Article

ASN Pemkot Bandung Siap Uji Coba Motor Listrik

Related Posts