Berharap Curah Hujan Jadi Berkah

Oom Rohmawati

Langit mendung awan hitam pertanda hujan akan segera turun ke bumi. Hati pun dirundung kebingungan sebab hujan tidak lagi menjadi keberkahan buat kami. Derita musibah tidak henti-hentinya terus terjadi, datang silih berganti. Apakah ini berarti murka illahi? Sehingga alam sudah enggan bersahabat dengan kami.

Curah hujan yang mengguyur kota Bandung beberapa hari terakhir ini, menyebabkan berbagai bencana. Banjir, longsor berturut-turut terjadi di beberapa wilayah. Di antaranya, ada di Desa Wanasuka, Kecamatan Pangalengan. Bahkan sempat mengeluarkan percikan api karena adanya gesekan material longsoran yang didominasi oleh bebatuan. Warga satu kampung mengungsi, karena khawatir longsor susulan terjadi. Sebagaimana yang diungkapkan Kepala Bidang Kedaratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Enjang Wahyudin, menuturkan bahwa longsor di desa Wanasuka terjadi tiga kali, pertama, Rabu (10/2/21), Jum’at, Sabtu dan Minggu. (Ayo Bandung.com, (14/2/2021)

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung, Akhmad Djohara mengatakan, setidaknya ada 20 rumah yang retak.  Diduga ada pergerakan tanah. Dia pun sedang mencari solusi, dan telah mengambil tindakan melalui opsi dan akan melakukan  relokasi. Dari pihak Badan Pembinaan Belanja Daerah BPBD saat ini tengah mencari ketersediaan lahan untuk relokasi. (AyoBandung.com, Jum’at, 19/2/2021)

Mengapa hujan mendatangkan bencana? Lalu bagaimana cara menyikapinya?

Musibah apapun bentuknya, itu merupakan ketetapan Allah Swt. tentu tidak bisa ditolak ataupun dicegah. Maka musibah harus diterima dengan lapang dada, ridha, tawakal dan istirja’ mengembalikan semuanya kepada Allah Swt. dengan bersabar. Sebab manusia itu makhluk yang lemah. Karena itu menerima takdir Allah dengan kesabaran adalah wajib. Apalagi Allah menjanjikan bahwa setiap musibah adalah penghapus dosa. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, kesedihan kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi terhapusnya dosa-dosa dengan tertimpanya musibah, tentu apabila orang tersebut menyikapinya dengan benar. Selain kesabaran harus pula dengan perenungan.

Pertama, problem mendasarnya karena pemerintah berorientasi pada pembangunan saja. Di mana tolok ukurnya  untung dan rugi. Sementara lingkungan dan keselamatan rakyat tidak diutamakan. Dengan pembangunan infrastruktur yang masif hingga menutup daerah bukaan atau resapan air. Hal itu membuat penyedotan air tanah yang tidak terkendali. Akibatnya terjadi penurunan muka tanah dengan cepat.

Kedua, banjir juga bisa terjadi akibat dari kurang pekanya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan menghargai lingkungan. Dengan ringannya membuang sampah ke sungai. Hal ini tentu membuat saluran air tidak lagi mampu mengalir sesuai kapasitas. Di tambah curah hujan yang semakin membesar, hingga terjadilah banjir. Mestinya pemerintah melakukan rehabilitasi saluran air dan menata kembali jaringan di dalamnya secara terpadu. Hingga air dipastikan dapat mengalir.

Ketiga, adanya penebangan dan pembakaran hutan menjadi pelengkap yang menyebabkan hilangnya serapan air. Maka harus ada upaya pencegahan agar banjir dan longsor tidak terulang, yaitu bisa dengan melakukan penghijauan kembali, bisa dengan memanfaatkan lahan-lahan hijau di kawasan bukit yang kosong. Agar serapan air bertambah.

Keempat, merajalelanya para pelaku kemaksiatan yang akan mengundang murka Allah Swt.  perzinaan di mana-mana minuman dan makanan haram menyebar luas ditambah lagi dengan praktik ribawi yang sudah dilegalkan. Semua itu seakan menjadi fenomena biasa dan bukan dosa dalam tatanan kehidupan yang jauh dari syariat (sekularistik).

Kebebasan yang terjadi sebagaimana disebutkan di atas adalah buah sekular-kapitalisme, yang meliputi: kebebasan berbicara, bertingkah laku, beragama dan kepemilikan. Mereka pun tidak akan peduli apakah itu halal atau haram asal memberikan keuntungan, termasuk dalam membuat kebijakan mereka lakukan tanpa memperdulikan rakyat yang akan terkena dampaknya. Agama dalam pandangan sistem ini, hanya sebagai hubungan antar individu dengan Tuhannya sedangkan aturan yang berlaku, dalam aspek lainnya semisal ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain tak lagi terikat pada perintah agama (Islam) melainkan dari pemikiran manusia. Padahal manusia itu bersifat lemah dan terbatas.

Itulah gambaran saat ini ketika manusia jauh dari syariat agama dengan  diterapkannya sistem  kapitalisme yang rusak.  Keselamatan rakyat dinomorduakan dan mengedepankan kepentingan para kapitalis dan materi semata. Kebijakan yang dibuatnyapun jauh dari aturan agama. Sehingga hanya keserakahan dan kerakusan saja yang terjadi saat ini. Alih-alih memperhatikan keselamatan rakyat, negara justru lebih mengedepankan pada keinginan pemodal dengan pembangunan infrastruktur di segala bidang, namun minim kontrol dan keamanan. Jelas musibah terjadi di mana-mana, mulai dari banjir, longsor, dan gempa karena ulah tangan manusia. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”  (QS: Ar-Rum: [30] :41).

Begitulah Allah Swt. telah memberikan peringatan yang keras kepada manusia. Karena kedurhakaanya mengambil hukum selain hukum Allah.

Akan berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Penguasa atau Negara akan melindungi rakyatnya. Tanpa membeda-bedakan apakah kaya atau miskin. Terjaganya aqidah dan keimanan warganya, oleh sebab aturan yang dijalankan sesuai syariat Islam yang dibuat oleh Zat yang  Mahasempurna, Allah Swt.

Aturan itu pula yang bisa melindungi dari ancaman marabahaya kaum kapitalisme penjajah yang menjadi salah satu penyebab masalah tak kunjung usai. Salah satunya dengan tidak mengizinkan segala yang menjadi kepemilikan umum dimiliki oleh perorangan atau swasta. Seperti hutan dan sumber alam lainnya.

Dalam pandangan Islam, air, padang gembalaan dan api adalah ciptaan Allah Swt. diperuntukkan untuk umum dan untuk kesejahteraan manusia. Tidak boleh dikomersilkan.

Penguasa dalam sistem pemerintahan Islam akan menanamkan nilai-nilai yang seimbang antara nilai materi, ruhiyah, akhlak, dan insani. Hingga mampu mencegah kerakusan, konsumerisme, menjauhkan dari aspek eksploitatif dalam pemanfaatan sumber daya alam. Juga mampu mengembalikan keharmonisan alam yang dirusak, antara lain:

Pertama, terkait hutan negara mempunyai kewenangan dan bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan hutan. Jadi negara harus benar-benar memperhatikan pandangan para ahli sehingga terhindar dari perbuatan merusak kelestarian hutan.

Kedua, anggaran berbasis baitul maal yang bersifat mutlak. Yaitu sebuah institusi pos khusus yang mengelola semua harta yang diterima dan dikeluarkan negara sesuai ketentuan syariat. Maksudnya negara mempunyai kemampuan finansial yang cukup untuk pelaksanaan berbagai program. Seperti penanggulangan bencana banjir, reboisasi, naturalisasi sungai, dan pengembalian fungsi lahan

Masa peradaban Islam, negara bertanggung jawab untuk memberikan kenyamanan terhadap warganya dalam kondisi apapun, termasuk bencana atau musibah. Negara akan memberikan penanganan kasus ini dari sebelum, saat dan pasca terjadinya musibah. Berikut beberapa langkah yang akan diambil negara:

Pertama, negara akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain). Negara juga membuat kebijakan untuk melarang masyarakat membangun pemukiman dan wilayah tersebut. Negara membangun saluran-saluran serapan di daerah tersebut yang bisa dialihkan alirannya dan diserap oleh tanah secara maksimal. Maka, dengan cara ini daerah rendah bisa terhindar dari banjir dan yang lainnya.

Negara juga menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi, kawasan hutan lindung dan sebagainya. Negara akan mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan. Apabila seseorang hendak membangun rumah, toko, dan sebagainya, maka ia harus memperhatikan syarat ketentuan yang telah ditetapkan khalifah, jika tidak maka akan ada sanksinya. Selain itu,  negara akan membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air, sungai dan sebagainya.

Sedangkan proses pembangunannya, mulai dari tenaga ahlinya, bahan-bahan yang diperlukan serta peralatan yang dibutuhkan, maka semuanya ini akan didanai oleh negara yang bersumber dari pos kepemilikan umum baitul mal.

Kedua, ketika terjadi bencana atau wabah, negara akan memberikan pemulihan kepada korban dengan menguatkan akidah Islamnya agar rida terhadap ketetapan Allah Swt. Korban bencana akan mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pemulihan atau dalam pengungsian. Mereka dipenuhi kebutuhan pokoknya dan dipulihkan psikisnya agar tidak stress atau depresi.

Ketiga, negara akan menetapkan sanksi (uqubat) yang tegas kepada siapapun bagi yang merusak lingkungan hidup. Sanksi (uqubat) dalam Islam sebagai jawajir dan jawabir. Jawajir (pencegah) berarti dari tindak kejahatan dan jawabir (penebus dosa).

Demikianlah, solusi dari negara di masa Khilafah Islamiyah dalam mengatasi permasalahan banjir. Maka dari itu hanya Islamlah solusi paripurna yang mampu menuntaskan problem bencana. Umat muslim harus sadar dan kembali pada syariat Islam yang kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Niscaya kehidupan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Maka apapun bentuk bencana yang terjadi, Islam memiliki solusi jitu dan akan dengan mudah diatasi secara cepat dan tepat. Rakyat dapat hidup sejahtera dengan penuh keberkahan di bawah penganyoman seorang pemimpin yang berpegang pada syariat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Tumbuhkan Optimisme, Jabar Luncurkan West Java of Calendar Event 2021

Next Article

Padepokan Dan Paguron Pencak Silat Tasikmalaya, Usulkan Senam Silat Indonesia

Related Posts