Pemimpin Amanah Tak Kenal Lelah

Ari Wiwin

Rasa lelah dan capek yang melanda setiap manusia, merupakan sesuatu yang  wajar terjadi ketika berada pada titik jenuh.  Akan tetapi semua itu harus kita sikapi dengan bijak dan dilawan dengan penuh semangat karena keduanya biasa terjadi dan  pasti akan terus ada.

Hal di atas ternyata dialami pula oleh Wakil Bupati Bandung periode 2016-2021, Gun Gun Gunawan yang  mengaku merasa capek selama mengemban tugas menjadi orang nomor dua di Kabupaten Bandung (Pojok Bandung. Com, Soreang, Jum’at, 19 Februari 2021).

Beliau mengatakan bahwa seorang pemimpin bisa menjadi seorang dokter, pengusaha, birokrat, ayah, bahkan bisa menjadi seorang alim ulama, ataupun menjadi teman. Menurutnya semua itu merupakan bentuk pendewasaan seorang pemimpin yang notabene merupakan pelayan masyarakat. Beliau menyadari setiap pemimpin dituntut bekerja lebih baik. Meskipun ada pro dan kontra namun kebijakan atau keputusan harus diambil dengan berbagai resiko yang harus dihadapi.

Di alam demokrasi kapitalis, menjadi seorang pengayom masyarakat tidaklah mudah, karena kebijakan-kebijakan yang digulirkan menghasilkan kesusahan bagi rakyat. Contoh: kebijakan terkait pajak, iuran BPJS, upah pekerja dan masih banyak lagi. Mereka seakan sulit mengambil keputusan, karena terkadang keputusan yang dirasa baik ternyata pada kenyataannya sangat menyengsarakan rakyat.

Seorang penguasa tidak memiliki kewenangan penuh,  sebab tidak boleh melupakan  para pemilik modal yang telah mendukungnya, sebagai pengendali perekonomian yang dalam hal ini dikuasai  oleh pihak swasta. Para kapitalis harus mendapatkan keuntungan serta  terjaminnya berbagai kepentingan. Pemerintah pun tidak bisa berbuat banyak selain hanya mendudukkan diri  sebagai pengawas dan regulator belaka. Ungkapan “penyediaan lapangan kerja adalah tanggung jawab pengusaha” mempertegasnya.

Sistem Kapitalis yang saat ini mendominasi dunia, dengan sekulerisme sebagai aqidahnya berupaya menjauhkan agama dari kehidupan. Rakyat dipaksa menjadi pemuas hasrat para korporat dan pemilik modal. Rakyat terus diperas demi maraup keuntungan yang besar. Kesejahteraan yang didamba hanya menjadi mimpi belaka. Inilah bukti kepemimpinan yang gagal.

Seorang pemimpin seharusnya tidak mengungkapkan kata capek dan lelah, tapi mesti berusaha tampil prima, meyakinkan dengan kata-kata yang menyemangati rakyat. Seorang pemimpin mesti memahami amanah yang  diembannya serta memiliki sikap rela, ikhlas, dan sabar karena Allah.

Gambaran pemimpin ideal nyata tergambar di dalam Islam yang biasa disebut dengan khalifah. Dicontohkan pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab beliau adalah sosok pemimpin yang ideal bagi kaum muslim. Beliau dikenal sebagai pribadi  yang tegas, adil, dan berani,. Sangat disegani dan dicintai rakyat karena sikapnya yang sangat  berani dalam menegakkan kebenaran.

Keteladanan khalifah Umar bin Khattab yang patut ditiru adalah ketika bencana kelaparan melanda Madinah yang menyebabkan wabah penyakit dan kematian. Beliau rela membantu rakyatnya tanpa terlihat lelah dan capek, rela menderita dan merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Bahkan beliau pernah bersumpah untuk tidak memakan daging dan minyak samin di saat semua rakyatnya menderita.

Rasulullah saw. pernah bersabda, mengenai gambaran betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, seperti yang terungkap dalam hadis:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinanya. Pemimpin negara yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinanya. Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinanya. Wanita/istri adalah pemimpin terhadap keluarga suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinanya”  (HR Bukhari dan Muslim) .

Dalam hadis lain Rasulullah saw.bersabda: “Imam (khalifah) adalah raa’in dan ia bertangung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Makna raa’in adalah penggembala, pemimpin atau penjaga. khalifah Umar bin khattab rela memanggul gandum demi untuk diberikan kepada seorang ibu dan anak-anaknya yang tengah kelaparan. Itupun dilakukan dengan rasa senang dan ikhlas tanpa sedikitpun menunjukkan rasa lelah karena merupakan bagian dari tanggungjawabnya sebagai seorang khalifah demi mengurusi umat.

Kepemimpinan dalam Islam sangat jauh berbeda dengan kepemimpinan pada masa sekarang, karena tujuannya sudah melenceng yaitu mengejar materi dan kedudukan. Makanya berlomba-lomba ingin jadi pemimpin walaupun modalnya besar. Sedangkan pemimpin atau khalifah pada masa kejayaan Islam  begitu amanah, ikhlas, tanpa kenal lelah dan capek hanya mencari ridha Allah semata. Amanah kepemimpinan tidak akan diberikan kepada yang menginginkan, akan tetapi bilamana diminta atau dipilih rakyat, memandangnya sebagai amanah yang harus dijalankan sesuai perintah Allah. Dalam sistem Islam tidak akan terjadi suksesi kepemimpinan seperti dalam sistem kapitalisme. Sebab bukan ajang untuk memperkaya diri apalagi hanya gagah-gagahan. Pemimpin dalam Islam adalah pelayan rakyat yang menerapkan syariah Islam kaffah dalam berbagai aspek kehidupannya. Tidakkah kita merindukannya? Wallahu a’lam bi ash shawab

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kota Bandung Miliki Wisata Religi Kampung Wisata Syamiil Quran

Next Article

Siapkan PTM, Guru Kota Bandung Bakal Divaksin

Related Posts