Negeri Masih Dilanda Wabah, Pusat Belanja Makin Ramai

Imelda Inriani

Ramadhan tinggal menghitung hari, masyarakat banyak yg sibuk berburu kebutuhan perlengkapan guna menyambut hari raya idul fitri yang dinanti-nantikan. Pusat Belanja akan menjadi tujuan utama dipenghujung ramadhan ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tak heran jika dalam waktu dekat ini pasar,  Mall,  maupun jalanan dipadati masyarakat meskipun negeri masih dilanda wabah Covid-19 seperti saat ini.

Pasar Tanah Abang contohnya pada tanggal 3 Mei 2021 sudah mulai dipadati pengunjung, Bahkan, Polda Metro Jaya turun tangan mengatasi kerumunan yang terjadi di Pusat Grosir Pasar Tanah Abang itu. Tak hanya itu bahkan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Pasar Tanah Abang juga disesaki pengunjung yang asyik memilih pakaian, himbauan menjaga jarak dari petugas pun sudah tak dihiraukan lagi oleh pengunjung bahkan didapati dari keterangan salah satu pengunjung bahwa Jembatan Penyebrangan Multiguna (JPM) yang merupakan jalur satu arah,  digunakan beberapa pengunjung dengan santai menjadi dua arah padahal sudah diperingatkan oleh petugas dengan menggunakan toa, namun para pengunjung juga tak mengidahkan himabauan tersebut.(Liputan6.Com, 02/5/2021)

Disisi lain Mentri keuangan Sri Mulyani justru mengajak masyarakat tetap belanja baju lebaran  ditengah larangan mudik, ibu Mentri menyampaikan bahwa hal ini dilakukan agar masyarakat tetap menyambut lebaran dengan suka cita selain itu hal ini ditujukan agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. Untuk menyukseskan program belanja ini, pemerintah sudah menyiapkan berbagai kebijakan seperti menyiapkan program Hari Belanja Nasional (Harbolnas) jelang Lebaran yang ongkos kirimnya disubsidi pemerintah. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, program Harbolnas akan bekerja sama dengan e-commerce untuk bisa mengirimkan barang sampai tujuan.(WartaEkonomi.co.id, 24/04/2021)

Usulan Mentri Keuangan Sri Mulyani pun menjadi Pro dan Kontra ditengah masyarakat terutama warga Twitter ada yang setuju dengan usulan tersebut seperti Dalang nyentrik Sudjiwo Tedjo yang menilai usulan Sri Mulyani ini jempolan untuk membangun spirit kebangsaan.”Setuju Bu Sri Mulyani. Tetap beli baju baru buat Lebaran tapi nggak boleh mudik. Ini bagus buat latihan tak pamer baju baru di kampung. Berbaju baru tapi hanya di kamar sendiri di rantau. Ini meditasi tingkat tinggi,” cuit @sudjiwotedjo.

Namun tidak sedikit pula yang mengritik bahkan menyindir. “Duitnya dari mana,” kicau @PresidenKopi. Akun @Cahyono_100 menilai usulan Sri Mulyani itu bagus untuk direalisasikan. “Saya mau dong bu dibelanjain,” ujarnya. “Alhamdulillaah masih bisa makan. Gak kepikir baju Lebaran,” tambahnya.

Akun @Resty7321 heran dengan kebijakan ini. Pemerintah dianggap hanya mau enaknya saja. Mudik nggak boleh tapi disuruh belanja. Menurut @Anak_Pribum1 hidup rakyat saat ini lagi dihimpit banyak masalah. Untuk belanja kehidupan sehari-hari aja untuk di dapur, rakyat sudah kesulitan, akibat dampak Covid. Rakyat di suruh belanja pakaian… Mana duitnya ??” ujarnya.

Akun @JacksQuevara malah menganggap usulan Sri Mulyani itu ngejek. “Sampean enak bu gaji gede bonus gede, lah kita,” ujarnya. “Lagi cekak begini disuruh belanja. Jeng jeng..,” ujar  @nyoiyekan. “Lagi nggak ada duit Bu…tahun ini gak beli baju lebaran,” ujar @DsSupriyady. Senada disampaikan akun @FaruqAbaz. Kata dia, bagaimana mau belanja untuk lebaran, harga karet anjlok, harga gabah juga turun. “Piye jeng…? Mbok pakai nurani gitu loh…,” sindirnya.  “Jangan bercanda bu. Bisa beli beras saja Alhamdulillah,” timpal @blengger. Demikian tanggapan dari warga terkait kebijakan Ibu Mentri Keuangan RI.

Jika melihat kembali kerumunan yang terjadi di Pasar Tanah Abang diatas dan kerumunan-kerumunan yang semisal tidak akan bisa dikendalikan oleh beberapa petugas yang berjaga dilokasi saja, jika pemerintah maupun petugas hanya berharap akan kesadaran setiap masyarakat hal itu juga tidak akan cukup untuk mengatasi masalah kerumunan di pusat perbelanjaan karna masyarakat akan sibuk dengan mencari keperluannya dan bahkan bisa lupa dengan penyebaran wabah covid-19 itu sendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa belum ada keseriusan pemerintah dalam menangani wabah. Pemerintah masih setengah hati dalam perkara ini. Bagaimana tidak, pusat perbelanjaan tetap dibuka meski beresiko terjadinya klaster baru dengan alasan ekonomi. Pemerintah seharusnya bersungguh-sungguh dan memastikan semua aspek agar wabah segera berakhir.

Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang Dapat mengantisipasi penyebaran virus dari banyaknya kerumunan yang terjadi sehingga tidak dikhawatirkan penyebaran virus yang membeludak. Tetapi melihat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru memperlihatkan bahwa selama kita masih dipimpin oleh pemimpin yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler, yang hanya mementingkan urusan para kapitalis daripada urusan rakyatnya, masih bekerja sama dengan Pihak kapitalis maka mustahil rakyat mendapatkan kebijakan yang sepenuh hati dalam menuntaskan pandemi.

Sehingga, sebagai seoraang muslim, maka kita harus dituntun Islam untuk berhukum dengan aturan-Nya secara kaffah. Yaitu dengan cara menjalankan segala hukum yang bersumber dari Allah secara keseluruhan tanpa terkecuali.  Wallahua’lam bishawab

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Palestina Berduka, Dadan Tri Prihatin

Next Article

Coca-Cola Amatil Berganti Menjadi CCEP

Related Posts