Meski BOR Menurun, Kota Bandung Masih Darurat Covid

Menurut Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Cucu Irawan, BOR Kota Bandung turun ke angka 91 persen. Sebelumnya BOR sempat menyentuh angka 94 persen.

Kendati menurun, Kota Bandung masih dalam status darurat. Karena berdasarkan standar WHO, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit yaitu 60 persen.

“Meskipun turun, kondisi ini masih belum seperti yang kita harapkan. Kita masih dalam status darurat,” katanya pada Bandung Menjawab secara virtual, Kamis, (8/07/2021).

“Oleh karena itu kita terus berkolaborasi dengan semua pihak agar tidak terjadi penumpukan di RS rujukan,” imbuhnya.

Cucu mengungkapkan, salah satu solusi atau langkah dalam menurunkan BOR adalah memperbaiki dan memaksimalkan proses yang ada di hulu. Yaitu memilah dan mengategorikan pasien Covid-19 berdasarkan gejala yang dialami.

Karena jika semua pasien Covid-19 masuk ke RS, maka penambahan atau konversi tempat tidur tidak akan cukup.

“Masyarakat harus mulai memahami bahwa setiap pasien yang terpapar virus Covid-19, tidak harus masuk ke RS rujukan. Jika bergejala ringan bisa dengan isolasi mandiri atau berkoordinasi dengan puskesmas dan aparat setempat,”ujarnya.

Nantinya, puskesmas atau aparat kewilayahan akan mengarahkan ke tempat tempat isolasi atau Rumah Singgah di dekat tempat tinggalnya.

“Kita terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan pihak hotel, kewilayahan dan lainnya untuk dapat menyiapkan tempat tempat atau rumah singgah isolasi di masing masing wilayah. Ini sebagai solusi juga dalam mengurangi BOR di RS rujukan,” ungkap Cucu.

Cucu memaparkan, jika menggunakan perhitungan standar WHO, 1 tempat tidur itu untuk 1.000 orang. Dengan asumsi warga Kota Bandung berjumlah 2,5 juta jiwa maka saat ini jumlah tempat tidur di RS Kota Bandung sudah sangat memadai.

Karena saat ini, terdapat sebanyak 6.000 tempat tidur di seluruh RS di Kota Bandung.

Akan tetapi, pandemi Covid-19 tidak mengenal batas administrasi daerah. Sehingga RS di Kota Bandung juga melayani pasien dari daerah lain.

“Sehingga hanya pasien pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga beratlah yang diarahkan masuk ke RS rujukan. Itu akan mengurangi penumpukan pasien di RS juga akan serta merta menurunkan BOR. Namun dengan tetap tidak mengurangi kualitas pelayanan,” jelas Cucu. ***

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Masa Pandemi, Optimalisasi Ikhtiar Basyariah dan Samawiyah

Next Article

Yana Mengakui Kasus Covid-19 Kota Bandung Masih Tinggi

Related Posts