Ancaman Bagi Orang Tak Pandai Bersyukur

Oleh : A. Rusdiana

Alangkah indahnya jika kita terus mengoreksi keimanan kita terhadap Allah SWT. Dengan cara meningkatkan takwa kepada-Nya. Takwa dalam artian yang sebenarnya. Yakni, dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Agar kita mendapat keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Zikir kita kepada Allah sangat dianjurkan. Dalam hal ini Allah berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang (Surat Al-Ahzab 41 – 42).
Melihat ayat di atas, berarti kita harus sering berzikir kepada Allah. Supaya dapat diberi oleh Allah ketenangan batin dan jiwa. Firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d 28;
“… (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Berzikir merupakan suatu cara untuk selalu mengingat Allah. Sejatinya, zikir menghubungkan jiwa manusia dengan Allah dan menjadikannya selalu merasa kehadiran Allah dalam lubuk hatinya. Pendek kata, zikir adalah medium melanggengkan hubungan antara hamba dan Tuhan.
Pertanyaannya apa yang perlu dingat saat ini? Hampir dua tahun lebih pandemi Covid-19 berlangsung. Korban jiwa terus berjatuhan di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya itu, secara ekonomi masyarakat dunia juga sangat terpuruk. Banyak sektor merugi dan gulung tikar. Banyak pekerja dirumahkan, kehilangan pekerjaan dan otomatis kehilangan penghasilan. Apa-apa sulit. Bahkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, rasa syukur kita sangat diuji. Saat ini al-hamduliilah pandemi Covid-19. Sudah hampir sirna perekonomiah sudah menggeliat kembali, anak-anak didik sudah bisa lagi masuk kelas luring, walapun protokol kesehatan harus tetap di jaga dan dijalankan, itulah yang patut disyukuri bersama.
Dalam Islam, syukur adalah salah satu prinsip penting bagi seorang muslim. Dan di masa pandemi ini, tak hanya sukur yang diuji, namun juga kesabaran. Pandemi seolah mengingatkan kita, betapa banyak hal yang mungkin selama ini kita lupakan. Terutama kesehatan dan umur. Dua hal yang sering terlupakan.
Ada beberapa hal yang seharusnya kita renungkan pada saat ini yakni:
Pertama, kita harus selalu berzikir kepada Allah. Karena zikir merupakan benteng yang menahan kita dari godaan setan. Bisa jadi kita akan terjerumus kepada hal-hal yang dilaknat oleh Allah, lalu kita zikir maka akan diselamatkan oleh-Nya. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah, bersabda;
“Perbanyaklah kalian untuk zikir kepada Allah di mana saja. Karena itu adalah amal yang dicintai Allah. Dan akan menyelamatkan hamba dari keburukan-keburukan” (Al-Hadist).
Dalam hadis lain disebutkan:
“Suatu kumpulan orang yang duduk zikir kepada Allah. Maka mereka akan dilindungi oleh malaikat. Mengucurkan rahmat mereka akan mendapat ketenteraman. Dan Allah akan selalu mengingat mereka”.
Kedua, “Bersyukurlah kepada-Ku”. Bagus tidak cukup mengucap hamdalah sesudah makan, mendapat sesuatu. Kita harus meningkatkan salat berjamaah, salat Qabliyah dan Ba’diyah. Mulai hari ini kita harus selalu pandai-pandai menyukuri nikmat Allah SWT.
Ketiga, Lalu bagaimana jika kita tidak menyukuri nikmat Allah? dalam sebuah hadits:
“Barang siapa yang tidak sabar atas cobaan-Ku, dan tidak mau bersyukur atas nikmat-Ku. Maka keluarlah dari langit-Ku, dan carilah tuhan selain Aku”.
Itulah ancaman pengusiran dari Allah SWT, jika kita tidak bisa pandai bersyukur. Lalu, kita akan pergi ke mana? bukankah dunia seisinya ini milik-Nya. Mudah-mudahan kita dapat menjadi hamba yang pandai bersyukur.
(Wallahu a’lam bishowab)
( Naskah hutbah Jumat,01 Juli 2022)
Penulis:
Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/ search?q =buku+a.rusdiana +shopee&source (3) https://play.google.com/store/books/author?id=Prof.+DR.+H.+A.+Rusdiana,+M.M***RY

Total
0
Shares
Previous Article

Wakasal Bergelar “Witjaksono Noto Segoro” dari Kesultanan Sumenep

Next Article

Indonesia, Berdaulat, Mandiri, Berbudaya Bisa Terwujud di Seabad Indonesia Merdeka

Related Posts